Showing posts with label Catatan Hati. Show all posts
Showing posts with label Catatan Hati. Show all posts

Wednesday, December 31, 2014

Maafkan aku cermin2 ku

Bissmillahirrohmanirrohim
Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ
Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” (Hasan secara sanad)

Bila engkau adalah cerminku, Tempatku mencari bayang agar aku bisa mempercantik diri. Alat yang kujadikan acuan untuk membenahi akhlaq perilakuku. Sarana untuk menscan noda-noda hatiku.
Mengapa aku sering mencelamu, mengutukmu, ingin menjauhimu, dan memecahkanmu.
Sungguh benar kata pepatah "buruk muka cermin dibelah"
Sejatinya, bukan engkau yang tidak jernih, bukan engkau yang tidak mampu memantulkan refleksi yang indah, bukan engkau yang bersalah. 
Namun nyatanya, akulah yang penuh cacat, tubuhku penuh borok, mukaku dijamuri jerawat, rambutku yang kusut tidak terawat. 
Maafkanlah aku yang selalu menudingmu, menyalahkanmu atas segala keburukanku. 
Harusnya kubersihkan diri dulu, memaskeri hatiku agar putih, me-make up-i otakku agar mampu berfikir penuh kasih. 
Biarkanlah aku, beri aku waktu, sampai saatnya nanti aku siap mengaca kembali, dan berucap terimakasih kepadamu oh para cerminku, yang telah menunjuki aku bagaimana bisa mempercantik tubuh, fikiran dan hati ini. 
*suatu siang yang dingin di penghujung 2014

Monday, December 15, 2014

Beranak pinak dan bersuami

Bismillah

Berakar dari keluarga broken home, saya dulu bercita-cita mengabdikan diri buat keluarga, terutama buat anak. Ketika saya kuliah, saya bener-bener serius salah satunya karena pengen mempelajari dasar-dasar perkembangan anak (*jurusan psikologi). Bahkan skripsi saya fokus pada anak gifted (pengen punya anak gifted waktu itu). Sering ketika menelfon kakak-kakak, kami berdiskusi bagaimana kami harus serius menjadi orang tua, merawat dan mendidik anak dengan sepenuhnya, mengenyampikan diri, kalo sudah punya anak, harus fokus pada anak-anak.

Saya juga pernah sekolah dibidang kesehatan sebentar, agar paling tidak bisa melakukan first aid bila anak-anak sakit. Belajar bahasa Inggris mati-matian salah satunya saya pingin anak-anak bisa lancar bahasa Inggris (dulu gak kebayang anak-anak saya bakal lahir dinegara berbahasa Inggris). memberanikan diri belajar nyupir karena saya pingin bisa bawa anak-anak main atau nganter mereka les privat, karena suami pasti kerja. Intinya saya mencoba mempersiapkan diri menjadi ibu yang cekatan, yang mandiri (gak terlalu ngerepotin suami), yang bisa ngerawat dan mendidik anak dengan maksimal.

Dulu ketika sebelum menikah, juga sering membayangkan jadi istri yang pintar di banyak hal, tentunya dalam urusan rumah tangga. Mengabdi pada suami, merawat rumah dengan rapih, mesasak yang cantik dan lezat, pokoknya pengen jadi istri perfect lah. Tidak cengeng, bisa jadi temen curhat suami, bisa mendukung dan menyemangati suami, tidak cerewet, selalu bisa bersabar menerima kekurangan suami, selalu bisa sabar bila suami marah atau suntuk, akan tetap tersenyum ketika suami marah, atapun bisa tegar dihadapan anak ketika sedang berselisih dengan suami.

Ya, semua itu yang saya persiapkan dan saya impikan. Tapi hidup berumah tangga itu bukan dalam angan-angan, ini praktek hidup nyata, sering kali berbenturan dengan yang kita inginkan atau kita rencanakan. Masalah datang bertubi silih berganti. Bicarakan, jangan dipendam, biar tidak menumpuk dan akhirnya seperti bom waktu, yang bisa meledak setiap saat.

Dari awal pernikahan sebaiknya bisa saling jujur mengenei kekurangan masang-masing. Bisa mentoleransi, mengerti dan memaafkan kekurangan pasangan. Namun, diri juga harus peka dan rajin memperbaiki diri untuk pasangan. Jangan marah atau defens ketika dikritik. Segera minta maaf dan perbaiki diri. Mengenyampingkan ego, keinginan, ataupun hobi pribadi. karena sekarang sudah tidak bertanggungjawab tetntang keberadaan diri sendiri saja. Tapi ada anak, ada pasangan.

Ketika pasangan salah, atau anak berulah jangan langsung naik pitam, tahan dulu. Fahami mengapa mereka salah, mengapa mereka berulah, jangan langsung menghukum atau menghujat. Kalo tidak bisa menahan, tinggalkan mereka sejenak, kalaupun anak menangis, biarkan tinggalkan sebentar. Tata hati dan fikiran, tarin nafas pelan, berwudhu, baca istigfar. Ketika sudah tenang baru temui untuk menyelesaikan.

Karena kalau langsung bereaksi (kalau reaksinya salah) pada suami, malah akan menimbulkan pertengkaran yang hebat, akan menimbulkan penyesalan, akan bisa menyakiti, kata ustad Nouman, sangat mudah buat kita untuk berkata kasar atau menyakiti orang dekat (keluarga), orang yang seharusnya kita hormati Suami) dan sayangi (anak-anak) lebih dari orang lain. Sangat mudah memasang muka manis dan berkata sopan dan lembut kepada orang baru kita temui (pengen meng impres), namun sulit untuk melakukan hal-hal tersebut kepada orang-orang terdekat kita. What is wrong with us?

Hormatilah dan sayangilah suamimu. Di menit Ijab qobul, dia mengambil alih tanggung jawab atas dirimu dari bapakmu. Dia harus menafkahimu, merawat, dan mendidikmu, padahal dia tidak berhutang apa-apa pada bapakmu. Dia meninggalkan ibunya tempat bermanja, untuk tinggal bersamamu dan memanjakanmu. Dia menomorduakan sahabat dan saudaranya karena ingin menomorsatukanmu, menemanimu, mengahbiskan waktu bersamamu. Maka INGAT, bila dia salah sedikit saja, jangan lupakan beban dipundaknya atas dirimu dan anak-anakmu, jangan lupakan semua kebaikan dan pengorbanannya hanya karena satu kesalahan yang dia perbuat. Jangan menceritakan aibnya pada siapa saja. Kalau kamu perlu curhat atau konsultasi pastikan kepada orang terdekat.

I love you Aa, semoga Alloh mempermudah aku untuk menjadi istri dan ibu sholehah. Aku memohon ampun kepada Alloh atas kecerobohanku selama menjadi istri dan ibu dari anak-anakmu. Maafkan aku Aa ku.



Bukan pelajaran sejarah

Bismillah

Dulu, sekarang kadang-kadang juga masih, ketika membaca terjemahan Al-Qur'an, atau ketika mendengarkan tafsir Al-Qur'an, atau ketika mendengarkan Siroh Nabawiyah, atau ketika mendengarkan kisah-kisah nabi dan kaum terdahulu, masih terkesan seperti mendengarkan dongeng. Atau terasa seperti belajar pelajaran sejarah.

Mengapa masih sulit mengambil contoh, masih sulit mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut. Kadang belajar kisah-kisah karena agar bisa mencerikatan kembali ke anak-anak. Atau bila sedang ngobrol sama rekan bisa menyisipkan kisah-kisah Nabi, agar terkesan lebih religius (Astagfirrulloh). Atau ketika halaqoh atau ada forum debat bisa mengeluarkan kisah-kisah sebagai landasan debat. Tapi tidak mencontoh Perilaku atau tindakan-tindakan Nabi. Tidak mengambil manfaat.  

Mempercayai isi kandungan Al-qur'an seluruhnya, seutuhnya, bukan hanya tentang hukum-hukum saja, adalah bagian dari percaya Al-Qur'an sebagai bagian rukun iman, iman kepada kitab. Demikian juga mempercayai kisah-kisah nabi dan mampu mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut adalah juga bagian dari percaya pada rukun iman, Iman kepada Rosul. Untuk percaya, berarti tidak hanya sebatas mengetahui sebagai pengetahuan, tetapi mengambil pelajaran dan mempraktekkannya.

Ya, semoga dipermudah memahami Al-Quran, mengajarkannya kembali dan mempraktekkan.

*Lamunan setelah membaca terjemahan sural ke 69, surah Al-Haaqqooh

Wednesday, October 10, 2012

note from 2006


Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya, gak tau napa aku tidur lebih dikit akhir-akhir ini. seperti biasanya, aku langsung puter chanel 53 yaitu VH1. yang pertama kuliat adalah lagunya coldplay yang "viva la vida", aku inget beberapa minggu lalu iseng baca2 comentnya soal lagu ini, banyak banget yang ngritik, tapi dari vote yang dilakukan salah satu lembaga membuktikan bahwa lagu ini menjual album terbanyak sedunia tahun ini,melebihi record yang di dapat oleh Elton Jhon beberapa tahun lalu.
Trus, selang beberapa menit kemudia keluarlah lagu "crazy" by….aduh sayang aku lupa nama penyanyinya pokoknya ada Gary siapa gitu. yang membuat aku sangat tertarik adalah vidio clip nya. mereka pake image2nya tes Rorschah. aku baru inget ya Allah aku pernah blajar tes ini 2 tahun yang lalu meski sedikit. trus aku buka google buat ngerefres pikiranku, aku klik Rorschach(aduh ribet banget sih nyepelnya), di wikipedia tertulis bahwa tes ini adalah no 2 paling bayak di pake setelah MMPI. waduh puyeng aku, MMPI ini kayaknya familiar dipikirankua, apa ya? kayaknya aku pernah belajar, tapi gak inget sama sekali. trus aku juga inget Binet. Ya Allah ternyata udah 2 tahun lebih setelah aku lulus, aku gak banyak inget apa yang aku pelajari. ini hanya terjadi padaku, apa juga terjadi ma ex mahasiswa psikologi yah?
Tapi aku inget yang kakakku bilang, "kamu kuliah bukan buat nyari bekerja, bisa jadi kamu nanti gak pake sama sekali ilmu kamu, kamu kuliah itu buat nyari pengalaman, biar kamu lebih mateng, dan kamu bisa lebiah siap buat ngadepin dunia nyata".
Aku sekarang teringat waktu dulu bikin laporan abis praktek ngetes, kadang 2 ampe 3 hari baru kelar, bahkan bisa mpe 4 hari. trus musti nyari mangsa buat di tes.
Tapi waktu aku kuliah dulu, aku sambil ngambil kursus bahasa inggris, sambil aku kursus basic komputer, trus abis itu waktu aku nyampe di negeri ini, aku ngambil sedikit sekolah di bidang kesehatan. sekarang dipikiranku campur aduk tentang ilmu-ilmu yang pernah aku pelajari. hanya secuil-secuil saja yang aku inget kecuali bahasa ingris karena ku harus pake tiap hari. aku baru sadar bahwa aku ini maruk, maunya tau soal semua hal, tapi gak pernah serius mendalaminya, jadi yang kudapat ya cuma secuil-cuil.
Aku harap aku belum terlambat buat serius belajar sesuatu. "Never too late to learn" and " Never too old to study" OK?

Aku Rakus


Bismillahirrahmannirrahim..
Aku baru sadar kalo memang manusia itu rakus, dan itu salah satu karunia yang sangat berharga dari Alloh yang Maha dari segala Maha. Kalo manusia tidak memiliki karunia "rakus" tentu peradaban tidak akan semaju ini, aku mungkin tidak akan merasakan hebatnya internet, enaknya makan roti bakar pakek madu, telpon gratis ke kakakku tiap hari, berkomunikasi dengan keluargaku yang jauhnya 25 jam naek pesawat, dan masih bnyak lagi. karena manusia rakus, makanya ia berusaha untuk mendapatkan lebih dari apa yang sebenarnya dia inginkan. dia ingin selalu hidup lebih baik dan lebih enak dan lebih nyaman. Karena manusai rakus bisa tercipta mesin2 canggih yang melayaninya. Banyak penemuan2 yang membuat manusia semakin pinter. Hidup semakin lebih mudah. Informasi lebih cepat larinya. mungkin tidak akan cukup satu buku untuk menuliskan segi positif dari kerakusan manusia. karena manusia tidak akan pernah puas sekalipun ia sudah mendapatkan apa yang dimimpikannya. mungkin itu sudah hukum alam.
tapi tidak sedikit juga akibat negatif dari sifat rakus manusia. Banyak manusia yang menjahati manusia laennya, berbuat kerusakan terhadap alam, hancurnya budaya malu, ….aku tidak yakin apakah juga mengakibatkan hancurnya peradaban yah? cuma aku pengen memandang dari segi positifnya saat ini.
Aku, yang terkategori sebagai salah satu manusia yang oleh Alloh diberi rejeki berupa kesempatan untuk mendiami bumi ini, merasa rakus. Perasaan itu sering menyiksaku. Karena aku selalu ingin lebih setelah mendapatkan apa yang aku inginkan. Kakak ku pernah bertanya kepadaka "coba inget-inget dari kamu kecil sampai kamu segede ini, apa yang kamu minta tetapi Tuhan tidak memberiknnya? tidak ada khan, apapun yang kamu minta Tuhan memberikan kepadamu khan?". setelah aku renungkan, ternyata kakakku ada benarnya. aku lupa selama ini Alloh selalu memberi apa yang aku mohon, tapi kenapa aku tidak pernah puas, aku selalu minta lebih? apa itu sudah hukum alam juga kalo aku rakus? mungkin saja ya?. karena manusia tumbuh dan berkembang dan semakin banyak yang dia lihat dan dia dengar. seperti apa yang di bilang AA Gym , kalo tidak salah seperti ini : semakin banyak yang kamu lihat semakin banyak pula yang kamu ingin.
Dulu waktu belum masuk SD, pas aku lihat kakaku pergi kesekolah aku kepengen juga. Rasanya bangga banget bisa menghafal alfabet dari A-Z, yang bentuknya aneh seperti itu tapi membuat manusia bisa menerima informasi, karena alfabet adalah awal kata yang kemudia membentuk kalimat dan dari itu jadi informasi. Lalu tidak lama kemudian aku masuk SD.
Pas sudah kelas 5 SD, aku sudah berhayal masuk SMP. Kok kayanyaknya keren banget yah pake baju beda warna, gak merah-putih lagi, trus sekolahnya juga agak jauh dari rumah, trus tambah temen banyak, trus tambah pelajran baru. Tak terasa juga, aku berejeki masuk SMP.
Ketika masa2 SMP aku tak sabar juga untuk masuk SMA. berhayal betapa asyik dan kerennya, ke sekolah naek motor sendiri, dapet SIM, punya geng buat kebut-kebutan. Bisa bolos sekolah bareng2 sama temen trus maen ke tempat yang jauh…banget. Namun ternyata setelah aku masuk SMA, aku malah rakus yang namanya ikut organisasi. Dari PMR, Pramuka sama OSIS. belum organisasi Remaja yang ada di desaku. karena aku rakus berorganisasi aku jadi tidak maksimal dalam pelajaran disekolah. salah ku sendiri sih.
Pas di SMA tetep kebiasaanku berhayal tak bisa dihentikan. Aku berhayal masuk kuliah, walapun aku merasa orang tuaku tidak akan sanggup membiayai aku. otakku tidak cukup pintar untuk masuk ke PTN biar biaya lebih murah dan mudah mendapatkan beasiswa. Alhamdulillah, aku bisa masuk ke salah satu PTS, aku bisa menikmati bangku kuliah. Waktu itu aku baru sadar kalo memang kita yakin Insaallah kita bisa. karena yakin itu termasuk doa, karena secara tidak langsung kita sudah memohon kepada Tuhan. PD aja, positive thingking aja, seperti kata pepatah "ada kemauan pasti ada jalan", seperti kata Mariah Carey dalam salah satu lagunya "You will when you believe".
Tuhan memberikan aku rejeki untuk bisa menikmati bangku kuliah,..eeeeeeee…aku masih berhayal lagi, gimana yah rasanya bisa kuliah di luar neg

Menyampaikan ilmu


Jangan Malu

“Ah entar di bilang sok tahu, takut ah” … “ato ntar di kira sok alim, sok sholehah, ato malah ntar dijulukin bu haji ato bu nyai”
Kalimat-kalimat itu sering muncul dipikiran kita, ketika ada keinginan untuk menyampaikan ilmu, atau ingin menasehati, ataupun menegur kawan yang sedang khilaf. Merasa ngga pede lah, merasa lebih muda, atau merasa masih jauh dari perfect.  Ato takut dibilang ini itu.
Nah, kembali lagi ke niat. Tanya hati dan fikiran. Kita ingin menyampaikan kebaikan itu untuk apa dan siapa, lalu mengapa. Apakah biar dibilang pinter dan berwawasan luas. Apakah biar orang mikir kita ini sholeh dan berpendidikan. Atau karena kita peduli teman, peduli sesame, karena kita sayang Lillahita’ala. Karena ingin ibadah, nambah amal jariyah, karena merasa wajib menyampaikan ilmu dan kebaikan.
Kalo tujuan kita baik, tidak bermaksud pamer atau riya’, mengapa musti ragu, mengapa musti takut apa kata orang nanti atau apa pikiran orang tentang kita. Kalau bisa Lillahita’ala, ya ngga akan pusing akan kata atau prasangka orang lain. Itu semua akan hilang sendiri.
Menyampaikan ilmu atau kebaikan harus dimulai dari sekarang, dimanapun, kapapun, jangan ditunda. Karena banyak keuntungannya, rugi kalau ngga buru-buru.
·         Sebagai pengingat diri : masa nasehatin orang lain tapi kita ngga ngelakuin, biasanya kita akan malu kalo ngga ngejalanin, bisa ngomong ngga bisa ngerjain.
·         Akan berusaha dan bersemangat belajar lebih banyak, akan semakin penasaran terhadap ilmu yang kita sampein, berusaha menggali lebih dalam.
·         Buat deposito amal jariyah. Makanya manfaatin waktu yg punya, karena ngga tau kapan ajal menjemput, harus segera nabung teman dalam kubur yang banyak.
·         Akan tambah menyayang dan disayang  baik keluarga, teman, atau yg ditransferi ilmu. Semakin berilmu akan semakin bijak.
Dan tentu masi banyak lagi. Bila bisa memanfaatkan setiap kesempatan untuk saling menyampaikan ilmu atau kebaikan, tentu ukuwah akan lebih indah, lebih seru dan berdinamika. semakin semangat untuk bersilaturahmi, karena bisa beramal jariyah juga bisa dapet ilmu, belum lagi pahala silaturrahminya, Maha Besar Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Begitu banyak kesempatan yang Ia berikan untuk mempercepat banyaknya deposito akhirat.
Dan dalam menyampaikan ilmu atau kebaikan tidak harus formal, seperti dalam forum halaqah atau pengajian, kalau memang tidak pe de, alias nervous an/ demam panggung (kaya saya). Bisa dalam interaksi sehari-hari, forum2 ngga formal, missal ngumpul2 temen.
Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sesiapa yang mengajak kejalan mengerjakan sesuatu amal yang baik,  adalah baginya pahala sebanyakpahala orang-orang yang menurutnya, dengan tidak mengurangi sedikit pun pahala itu dari pahala-pahala mereka; dan (sebaliknya) sesiapa yang mengajak kejalan mengerjakan sesuatu amal yang menyesatkan,  adalah ia menanggungdosa sebanyak dosa orang-orang yang menurutnya, dengan tidakmengurangi sedikit pun dosa itu dan dosa-dosa mereka."(Muslim, Abu Daud dan Tirmizi)
Terus berdoa, semoga selalu mendapat kekuatan untuk menyampaikan ilmu dan kebaikan karena mengharap ridho Allah SWT, agar “tabungan” cepet banyak. Allahuma Aamiin.

Wallahu alam bissawab